Deck Cadet : Panduan Prala, TRB, Tugas di Kapal, dan Cara Siap Naik Kapal Pertama

Deck Cadet bukan sekadar “naik kapal sambil belajar jadi pelaut”. Ini adalah masa pembentukan dasar sebelum seseorang benar-benar dipercaya menjadi perwira dek. Banyak cadet dek sebenarnya punya semangat besar. Tapi saat menghadapi Prala, mereka sering belum tahu apa yang benar-benar akan dihadapi di kapal: tugas lookout, dinas jaga di anjungan, mooring, cargo operation, familiarisasi safety, mengisi Training Record Book atau TRB, sampai cara bersikap kepada Nakhoda, mualim, Bosun, AB, dan crew lain. Masalahnya bukan selalu karena cadet tidak mampu. Kadang mereka hanya belum mendapat gambaran yang cukup jelas tentang realita kapal pertama. Panduan ini dibuat untuk kamu yang sedang berada di jalur deck department: sedang mencari kapal Prala, menunggu penempatan dari kampus, mempersiapkan dokumen, atau sebentar lagi naik kapal untuk pertama kali. Tujuannya sederhana : membantu Deck Cadet Indonesia lebih siap, lebih tenang, dan lebih tahu apa yang perlu dilakukan sejak awal.

1. Deck Cadet adalah calon perwira dek yang sedang menjalani Praktek Laut atau Prala. Tugasmu belajar, mencatat, dan membantu pekerjaan sesuai arahan – bukan menjadi tenaga kerja penuh.

2. Dua hal yang paling sering membuat cadet bermasalah adalah dokumen yang diurus mendadak dan TRB yang dikejar di akhir kontrak. Bereskan dua hal ini sejak awal.

3. Inti tugas perwira dek adalah navigasi, cargo, dan safety. Selama Prala, fokus pahami bridge watchkeeping, peralatan navigasi, mooring, dan operasi muatan.

4. Attitude menentukan reputasi. Dunia crewing kecil. Mualim yang membimbingmu hari ini bisa menjadi recruiter, Nakhoda, atau orang yang dimintai referensi tentang kamu nanti.

Banyak Deck Cadet Indonesia tidak hanya menghadapi tantangan teknis. Sebelum naik kapal saja, kadang tekanannya sudah terasa. Ada yang menunggu kabar dari kampus. Ada yang melihat teman lain sudah lebih dulu berangkat. Ada yang mendapat tawaran kapal, tapi belum yakin apakah kapal itu bisa diakui untuk Prala. Ada juga yang bingung harus bertanya ke siapa tanpa terlihat banyak menuntut.

Setelah naik kapal, tantangannya berbeda lagi. Sebagian cadet kaget karena hari-hari pertama tidak langsung belajar navigasi secara penuh. Ada yang lebih banyak cleaning, chipping, painting, ikut mooring, membawa alat, membantu kerja dek, atau menjadi lookout di anjungan. Hal seperti ini sering membuat cadet bertanya dalam hati : “Apakah saya benar-benar sedang belajar ?” Jawabannya : bisa iya, kalau kamu memahami prosesnya. Pekerjaan dasar di dek bukan berarti tidak penting. Dari cleaning, mooring, lookout, dan familiarisasi, kamu mulai mengenal kapal, area kerja, risiko, alat, prosedur, dan budaya kerja onboard.

Prinsip penting

Kapal pertama tidak harus terlihat sempurna. Tapi proses Prala harus jelas: diketahui institusi, masa layar bisa diakui, TRB berjalan, dan kamu benar-benar belajar dari pekerjaan yang kamu ikuti.

Deck Cadet atau Cadet Dek – adalah calon perwira dek yang sedang menjalani Praktek Laut sebagai bagian dari proses pendidikan dan pembentukan kompetensi di deck department. Di kapal, Deck Cadet biasanya berada di bawah pengawasan departemen dek, dengan arahan dari Nakhoda, Chief Officer, atau perwira dek yang ditunjuk sebagai pembimbing. Kamu bukan tenaga kerja penuh, tapi juga bukan penonton. Kamu berada di kapal untuk belajar, mencatat, membantu pekerjaan sesuai arahan, dan membangun dasar kompetensi sebagai calon perwira dek.

Yang membedakan Deck Cadet dari rating dek seperti AB, OS atau Bosun adalah tujuan akhirnya. Cadet sedang membangun jalur menuju perwira dek, sedangkan rating menjalankan tugas operasional sesuai jabatan dan sertifikatnya.

📌Status Deck Cadet : peserta didik atau calon perwira dek

📌Status rating dek : crew operasional sesuai jabatan.

📌Fokus Deck Cadet: belajar, mengisi TRB, familiarisasi kapal, dan membantu pekerjaan dengan supervisi.

📌Fokus rating dek: menjalankan tugas rutin deck department sesuai jabatan dan sertifikat.

📌Pembimbing Deck Cadet : Master, Chief Officer atau mualim yang ditunjuk.

📌Pembimbing rating dek : mualim jaga, Bosun atau atasan langsung.

📌Target Deck Cadet : menyelesaikan Prala dan membangun jalur ke perwira dek.

📌Dokumen penting Deck Cadet : TRB, dokumen Prala, buku pelaut dan sertifikat dasar.

Secara umum, calon Deck Cadet di Indonesia berasal dari institusi pendidikan pelayaran seperti politeknik pelayaran, akademi pelayaran, sekolah tinggi pelayaran, atau jalur pendidikan lain yang memiliki program nautika/pelayaran. Detail jalurnya bisa berbeda, tetapi pola besarnya biasanya seperti ini :

1. Mengikuti pendidikan nautika di institusi yang diakui.

2. Menyelesaikan syarat akademik sebelum berangkat Prala.

3. Menyiapkan dokumen dasar pelaut dan dokumen dari institusi.

4. Mendapat penempatan kapal melalui kampus, perusahaan, agen, alumni, atau jalur resmi lain.

5. Menjalani masa Prala dan mengisi TRB sesuai arahan institusi.

6. Kembali ke kampus untuk proses evaluasi, sidang, atau tahapan lanjutan sesuai aturan institusi.

Banyak cadet terlalu senang saat mendapat tawaran kapal, sampai lupa menanyakan hal-hal penting. Padahal ini menyangkut masa layar, dokumen, biaya, dan kelancaran proses setelah kembali ke kampus.

1. Apakah kapal ini disetujui oleh institusi saya untuk Prala ?

2. Berapa lama masa Prala atau kontrak yang diberikan ?

3. Apakah TRB saya bisa ditandatangani oleh perwira yang berwenang ?

4. Siapa PIC perusahaan atau agen yang bisa dihubungi jika ada kendala ?

5. Jenis kapal, flag, GT, trading area, dan rute pelayaran apa ?

6. Apakah ada allowance atau uang saku? Kalau ada, bagaimana ketentuannya ?

7. Siapa yang menanggung tiket, medical, visa, joiner ticket, atau biaya perjalanan ?

8. Apakah ada asuransi, perlindungan, atau dokumen perjanjian yang jelas ?

9. Bagaimana prosedur sign on, sign off, dan pelaporan ke institusi ?

Pertanyaan seperti ini bukan berarti kamu banyak menuntut. Ini bagian dari memastikan Prala kamu berjalan jelas, aman, dan bisa dipertanggungjawabkan.

Area dokumen sering menjadi penyebab cadet delay naik kapal. Bukan karena dokumennya sulit semua, tapi karena banyak yang baru diurus mendadak saat jadwal boarding sudah dekat.

Jangan tunggu last minute

BST atau medical certificate yang tidak valid biasanya akan menghambat proses joining. Cek masa berlaku semua dokumen minimal beberapa minggu sebelum jadwal keberangkatan. Simpan juga scan dokumen dalam format PDF yang jelas dan mudah dikirim.

Pada 30 hari pertama, jangan memaksakan diri untuk langsung memahami semua hal. Fokus dulu pada keselamatan, familiarisasi, dan kebiasaan belajar yang benar.

1. Hafalkan muster station dan tugas emergency kamu.

2. Kenali area bridge, forecastle, poop deck, mooring station, cargo area, dan jalur escape.

3. Pahami aturan dasar di anjungan: tidak berisik, tidak mengganggu mualim jaga, dan tidak menyentuh alat navigasi tanpa izin.

4. Bawa buku catatan kecil saat jaga atau kerja dek.

5. Catat istilah baru seperti CPA, TCPA, bearing, draft, trim, heaving line, snap-back zone, passage plan, dan handover.

6. Mulai isi TRB sedikit demi sedikit sejak awal.

7. Perhatikan cara mualim melakukan serah terima jaga.

8. Belajar menjadi lookout yang benar.

9. Jangan berdiri sembarangan di area mooring.

10. Bangun hubungan baik dengan Nakhoda, mualim, Bosun, AB, OS, dan semua crew.

Target 30 hari pertama Bukan menjadi cadet paling pintar. Targetnya adalah menjadi cadet yang aman, sopan, disiplin, bisa diarahkan, dan terlihat serius belajar.

Banyak Deck Cadet kaget karena bayangan mereka tentang Prala berbeda dengan realita di kapal. Ada yang membayangkan akan langsung memegang radar dan ikut navigasi setiap hari. Ada juga yang kecewa karena awalnya lebih banyak chipping, painting, cleaning, atau membantu kerja dek dasar.

Padahal pekerjaan dasar itulah pintu masuk untuk memahami kapal. Kamu tidak bisa memahami navigasi dan operasi muatan kalau belum familiar dengan area, peralatan, prosedur, dan kebiasaan kerja di dek dan anjungan.

CatatanPembagian fase di bawah ini adalah gambaran umum. Di kapal sebenarnya, urutan belajar bisa berbeda tergantung jenis kapal, sistem jaga, Nakhoda, mualim pembimbing, dan kebutuhan operasional.

Anjungan bukan tempat nongkrong. Di sana mualim jaga sedang memantau navigasi, traffic, cuaca, komunikasi, posisi kapal, dan keselamatan pelayaran.

Sebagai Deck Cadet, kamu perlu menjaga etika saat berada di bridge.

  1. Jangan menyentuh radar, ECDIS, VHF, autopilot, steering control, atau alat navigasi lain tanpa izin.
  2. Jangan berbicara keras saat mualim sedang fokus atau berkomunikasi lewat VHF.
  3. Jangan main HP saat watchkeeping.
  4. Jangan duduk santai jika belum diberi arahan.
  5. Jangan meninggalkan bridge tanpa izin.
  6. Jangan malu bertanya, tapi pilih waktu yang tepat.
  7. Perhatikan cara mualim melakukan lookout, plotting, handover, dan call Master.
  8. Catat istilah atau situasi yang belum kamu pahami.

Ingat Cadet yang sopan di bridge biasanya lebih mudah dipercaya untuk belajar lebih banyak.

Banyak cadet menganggap lookout hanya “melihat laut”. Padahal lookout adalah salah satu dasar terpenting dalam bridge watchkeeping. Dari lookout, kamu belajar membaca situasi :

📌Kapal lain di sekitar

📌Lampu navigasi

📌Arah dan perubahan bearing

📌Fishing vessel

📌Buoy

📌Cuaca

📌Visibility

📌Benda terapung

📌Potensi bahaya navigasi.

Lookout yang baik tidak hanya mengandalkan mata, radar, atau AIS saja. Semua informasi harus dibaca bersama-sama. Jika kamu melihat sesuatu yang tidak normal, segera laporkan ke mualim jaga dengan jelas.

Kalau engineer punya kamar mesin, perwira dek punya anjungan. Inti dari menjadi perwira dek adalah menjaga kapal tetap aman saat berlayar. Itu berpusat pada dua hal: bridge watchkeeping dan COLREG.

Saat ikut dinas jaga di anjungan, kamu akan mulai melihat bagaimana mualim menjaga kapal tetap aman: memantau posisi, memperhatikan traffic, membaca radar, melihat ECDIS, mengecek cuaca, mencatat log book, dan mengambil keputusan sesuai kondisi.

Sebagai cadet, kamu mungkin belum diminta mengambil keputusan. Tapi kamu harus mulai memahami cara berpikir perwira dek.

  1. Bagaimana mualim melakukan handover jaga.
  2. Kapan harus call Master.
  3. Bagaimana membaca CPA dan TCPA.
  4. Bagaimana mengamati perubahan bearing kapal lain.
  5. Bagaimana memahami situasi head-on, crossing, dan overtaking.
  6. Bagaimana mencatat kejadian penting di log book.
  7. Bagaimana COLREG digunakan dalam situasi nyata.

COLREG bukan sekadar hafalan ujian. COLREG adalah dasar untuk mencegah tubrukan di laut. Tapi ingat: keselamatan selalu lebih penting daripada merasa “paling benar”. Dalam navigasi, semua pihak tetap punya kewajiban untuk menghindari bahaya.

Tips cadet Bawa buku catatan kecil ke anjungan. Setiap kali mualim menjelaskan situasi atau aturan COLREG, catat dengan bahasamu sendiri. Catatan inilah yang nanti membantu saat sidang, assessment, dan interview pertama.

Bertanya itu penting. Tapi di anjungan, timing sangat penting. Jangan bertanya panjang saat kapal sedang traffic padat, pilotage, maneuvering, crossing situation, atau saat mualim sedang komunikasi VHF.

Cadet yang baik bukan cadet yang bertanya tanpa henti. Cadet yang baik adalah cadet yang memperhatikan dulu, mencatat, lalu bertanya di waktu yang tepat.

Kamu tidak harus langsung menguasai semuanya sebelum naik kapal. Tapi selama Prala, kamu harus mulai memahami area-area berikut karena inilah fondasi saat kamu nanti masuk ke level junior officer.

  1. Navigasi : radar/ARPA, ECDIS, GPS, gyro compass, magnetic compass, echo sounder, dan AIS.
  2. Bridge watchkeeping: lookout, serah-terima jaga, log book, bell book, dan dasar COLREG.
  3. Peta dan publikasi: koreksi peta, dasar passage planning, dan publikasi navigasi.
  4. Mooring dan anchoring: tali tambat, fairlead, bollard, windlass, winch, mooring station safety, dan snap-back zone.
  5. Operasi muatan: jenis muatan, lashing/securing, cargo hold/tank, loading/discharging, draft, dan trim.
  6. Deck machinery: windlass, mooring winch, crane/derrick, hatch cover, dan safety pengoperasian dasar.
  7. LSA: lifeboat, liferaft, lifebuoy, EPIRB, SART, immersion suit – lokasi, fungsi, dan drill.
  8. FFA: fire main, hydrant, extinguisher, fire plan, dan muster list.
  9. Stabilitas dasar: draft, trim, list, dan basic stability awareness.
  10. Safety dan dokumentasi: dasar ISM, ISPS, permit to work, enclosed space awareness, dan penggunaan PPE.
Catatan safety di dek dan anjungan : Jangan mengoperasikan winch, windlass, valve, panel, atau peralatan apa pun tanpa instruksi dan pengawasan. Jauhi snap-back zone saat mooring. Rasa ingin tahu itu bagus, tapi tindakan tanpa izin bisa berbahaya untuk kamu, crew lain, dan kapal.

Mooring terlihat seperti pekerjaan rutin. Tapi risikonya tinggi. Sebagai Deck Cadet, jangan berdiri di area mooring hanya karena ingin melihat lebih dekat. Pahami dulu posisi aman dan ikuti instruksi Bosun, AB, OS, atau mualim yang bertugas.

  1. Jangan berdiri di snap-back zone.
  2. Jangan melangkahi tali tambat.
  3. Jangan berdiri di dalam bight of rope.
  4. Jangan terlalu dekat dengan tali yang sedang tegang.
  5. Jangan memakai HP di area mooring.
  6. Dengarkan aba-aba dengan jelas.
  7. Jangan bergerak sendiri tanpa instruksi.
  8. Pakai PPE dengan benar.
Kalimat sederhana
“Bosun, posisi aman untuk saya berdiri di mana?”
Pertanyaan seperti ini bukan tanda takut. Itu tanda kamu paham risiko.

Deck Cadet adalah calon perwira. Tapi itu bukan alasan untuk merasa lebih tinggi dari rating deck. Banyak hal praktis di dek justru dipelajari dari Bosun, AB, dan OS.

📌Cara membaca kondisi tali.

📌Cara kerja winch dan windlass.

📌Posisi aman saat mooring.

📌Kebiasaan kerja deck maintenance.

📌Cara lashing dan securing.

📌Cara menjaga deck equipment.

📌Budaya kerja yang tidak selalu tertulis di buku.

Hormati mereka. Cadet yang menghargai rating biasanya lebih mudah diterima di kapal. Sebaliknya, cadet yang merasa “calon officer” tapi tidak mau belajar dari crew lain biasanya sulit dipercaya. Di kapal : Ilmu tidak hanya datang dari jabatan. Ilmu juga datang dari pengalaman.

TRB adalah dokumentasi resmi proses belajar kamu selama Prala. Ini bukan buku formalitas yang bisa diisi asal-asalan menjelang pulang. TRB menunjukkan apa yang kamu pelajari, pekerjaan apa yang kamu ikuti, dan kompetensi apa yang sudah dibimbing di kapal.

TRB yang kosong, tidak sesuai fakta, atau tidak diverifikasi berkala bisa mengganggu proses evaluasi saat kamu kembali ke institusi.

Tips Mengisi TRB yang Benar

✅ Isi segera setelah aktivitas selesai. Jangan menumpuk sampai akhir kontrak.

✅ Gunakan kalimat spesifik. Misalnya: “Saya mengikuti dinas jaga navigasi bersama mualim 3 dan mencatat posisi kapal serta situasi lalu lintas di sekitar.”

✅ Minta tanda tangan atau verifikasi pembimbing secara berkala sesuai prosedur di kapal.

✅ Scan/foto halaman yang sudah ditandatangani dan simpan backup di email atau cloud.

✅ Kalau ada task yang tidak bisa dilakukan karena kapal tidak punya peralatan atau operasi tersebut, catat alasannya dan koordinasikan dengan pembimbing/institusi.

TRB adalah tanggung jawab kamu TRB yang hilang, rusak, atau kosong di akhir Prala bisa menjadi masalah besar. Jangan mengandalkan ingatan. Catat, foto, scan, dan backup secara rutin.

TRB adalah dokumen resmi. Tapi cadet juga perlu punya catatan belajar pribadi. Catatan ini tidak perlu rumit. Yang penting konsisten.

Isi catatan harian sederhana

🖊️Tanggal

🖊️Kegiatan yang diikuti

🖊️Area kerja

🖊️Istilah baru

🖊️Hal yang dipelajari

🖊️Pertanyaan yang belum dipahami

🖊️Catatan safety

Catatan kecil seperti ini akan sangat membantu saat menyusun laporan Prala, sidang, CV dan jawaban interview. Pengalaman yang tidak dicatat biasanya cepat hilang. Pengalaman yang dicatat bisa menjadi bahan belajar dan bahan cerita saat interview.

  1. Bridge / anjungan: ruang kendali kapal tempat navigasi dan dinas jaga dilakukan.
  2. Lookout: tugas mengamati situasi sekeliling kapal; tugas dasar pertama cadet di anjungan.
  3. COLREG: aturan internasional untuk mencegah tubrukan di laut.
  4. Mualim: perwira dek, seperti Chief Officer, 2nd Officer, dan 3rd Officer.
  5. Bosun: kepala kerja para rating dek yang mengatur pekerjaan harian di dek.
  6. AB / OS: Able Seaman / Ordinary Seaman, rating dek dengan tingkat kompetensi berbeda.
  7. Forecastle: bagian depan kapal, area mooring dan anchoring di haluan.
  8. Mooring station: area operasi tali tambat saat kapal sandar atau lepas sandar.
  9. Draft / trim: draft adalah kedalaman kapal di air; trim adalah beda draft depan dan belakang.
  10. Passage plan: rencana pelayaran dari pelabuhan ke pelabuhan.
  11. ECDIS: sistem peta navigasi elektronik.
  12. CPA/TCPA: informasi jarak terdekat dan waktu terdekat kapal lain terhadap kapal kita.
  13. Muster list: daftar tugas tiap crew saat keadaan darurat dan drill.

Cadet yang baik bukan cadet yang sok tahu, tapi juga bukan cadet yang hanya diam menunggu disuruh. Tugasmu adalah belajar, mencatat, bertanya dengan sopan, dan membantu pekerjaan sesuai arahan.

Yang Membuat Cadet Dek DipercayaYang Membuat Cadet Sulit Dipercaya
✅Datang tepat waktu atau sedikit lebih awal saat jaga atau kerja harian.
✅Membawa buku catatan kecil untuk mencatat istilah, situasi, dan penjelasan mualim.
✅Bertanya setelah mencoba memahami dulu, bukan bertanya asal-asalan.
✅Menjaga kebersihan dan kerapian area kerja tanpa harus selalu disuruh.
✅Tidak malu mengakui belum paham, tapi mau belajar.
✅Melapor kalau melihat kondisi tidak normal: kapal mendekat, alarm, peralatan rusak, atau hal mencurigakan saat lookout.
❌Terlalu sering di kabin saat jam kerja tanpa alasan jelas.
❌Main HP saat dinas jaga atau saat sedang belajar di dek.
❌Mengangguk seolah paham, padahal tidak mengerti instruksi.
❌Tidak mengisi TRB secara berkala.
❌Banyak komplain tapi tidak menunjukkan kemauan belajar.
❌Tidak menjaga attitude terhadap rating, mualim, dan crew lain.

Dunia crewing itu kecil. Mualim yang membimbing kamu hari ini bisa saja bertemu kamu lagi sebagai recruiter, superintendent, Nakhoda, atau orang yang dimintai referensi beberapa tahun ke depan.

Beberapa kesalahan ini sering terjadi pada cadet baru. Bukan untuk menyalahkan, tapi agar bisa dihindari sejak awal.

  1. Terlalu fokus mencari kapal, tapi tidak memastikan apakah kapal itu diakui untuk Prala.
  2. Mengurus dokumen terlalu dekat dengan jadwal boarding.
  3. Menganggap cleaning, chipping, painting, atau lookout sebagai pekerjaan kecil.
  4. Tidak membawa buku catatan saat jaga.
  5. Malu bertanya sampai akhirnya pura-pura paham.
  6. Main HP saat watchkeeping atau kerja dek.
  7. Tidak mengisi TRB secara bertahap.
  8. Baru minta tanda tangan TRB saat mendekati sign off.
  9. Tidak menjaga hubungan baik dengan Bosun, AB, OS, dan rating lain.
  10. Tidak mencatat pengalaman mooring, cargo, lookout, atau safety drill.
  11. Terlalu cepat membandingkan kapal sendiri dengan kapal teman.
  12. Pulang Prala tanpa bisa menjelaskan apa yang benar-benar dipelajari.

Mendapat kapal Prala bukan cuma soal nasib. Cara kamu mengirim lamaran, menyiapkan dokumen, dan berkomunikasi dengan crewing juga ikut menentukan apakah kamu terlihat serius atau asal mencari kapal.

Kanal yang bisa dipakai

• Departemen Prala atau career center institusi pendidikan.

• Perusahaan/crewing agent yang bekerja sama dengan institusi.

• Rekomendasi senior atau alumni yang sudah berlayar.

• Direct apply ke perusahaan pelayaran jika ada kontak resmi.

• Platform lowongan seperti Daily Loker Pelaut Vacancy jika ada posisi cadet yang dibuka.

Contoh chat apply WhatsApp – Bahasa Indonesia

Contoh chat apply – English Simple

❌ Mengirim chat terlalu singkat: “Saya mau praktek, ada kapal?” tanpa data apa pun.

❌ Tidak menyebut institusi pendidikan.

❌ CV belum rapi atau belum mencantumkan status dokumen.

❌ Scan dokumen blur, gelap, atau tidak bisa dibuka.

❌ Tidak memastikan apakah penempatan bisa diakui untuk Prala.

❌ Follow up terlalu cepat dan terlalu sering.

❌ Mengirim lamaran ke semua lowongan tanpa membaca requirement.

Secara umum, jalur karier perwira dek bisa dibayangkan seperti ini:

  1. Deck Cadet : membangun dasar pelaut, menyelesaikan Prala, dan merapikan TRB.
  2. 3rd Officer / Mualim 3: perwira dek entry level setelah memenuhi syarat dan lulus tahapan yang berlaku. Biasanya bertanggung jawab atas LSA/FFA dan dinas jaga navigasi.
  3. 2nd Officer / Mualim 2: fokus pada navigasi, koreksi peta, dan passage planning sebagai navigation officer.
  4. Chief Officer / Mualim 1: bertanggung jawab atas operasi muatan, stabilitas, perawatan dek, dan menjadi tangan kanan Nakhoda.
  5. Master / Nakhoda: bertanggung jawab penuh atas kapal – keselamatan, navigasi, muatan, crew, kepatuhan, dan keputusan besar.

Yang menentukan cepat atau lambat bukan hanya sertifikat. Attitude, sea service yang konsisten, reputasi, kemampuan teknis, kemampuan komunikasi bahasa Inggris, dan cara kamu menjelaskan pengalaman saat interview juga sangat berpengaruh.

Tidak ada jenis kapal yang selalu “paling baik” untuk semua cadet. Setiap jenis kapal punya kelebihan dan tantangan. Yang penting adalah memastikan kapal tersebut sesuai untuk kebutuhan Prala kamu dan memberi exposure yang cukup.

  1. Bulk Carrier: banyak exposure kerja dek, mooring, dan operasi muatan curah; cocok untuk belajar dasar. Perhatikan kerja dek yang bisa padat saat port stay dan preparation.
  2. General Cargo: variasi cargo handling tinggi dan banyak skill dek bisa dipelajari. Perhatikan usia kapal dan safety awareness.
  3. Tanker: exposure ke prosedur cargo dan safety yang ketat. Perhatikan requirement tanker familiarization atau sertifikat tambahan.
  4. Container Ship: operasi modern, rotasi pelabuhan cepat, dan lashing container. Perhatikan port stay yang singkat dan jadwal yang padat.
  5. Offshore / OSV: operasi khusus dan exposure teknis menarik. Biasanya butuh sertifikat tambahan dan requirement lebih spesifik.
  6. Ferry / Kapal Lokal: lebih dekat dan kadang lebih mudah mendapatkan kesempatan. Pastikan masa layar dan jenis kapal sesuai kebutuhan institusi/sertifikasi.

✅ Buku Pelaut sudah aktif atau prosesnya jelas.

✅ BST valid dan tidak mendekati expired.

✅ Medical certificate valid sesuai requirement.

✅ SID aktif jika diminta.

✅ Paspor valid jika kapal internasional.

✅ TRB sudah diterima dari institusi dan sudah kamu baca sekilas.

✅ Surat pengantar Prala sudah tersedia.

✅ Joining instruction, port of embarkation, dan PIC perusahaan/agen sudah jelas.

✅ Wearpack, safety shoes, sarung tangan, dan perlengkapan pribadi sudah disiapkan.

✅ Buku catatan kecil dan alat tulis siap dibawa ke anjungan dan dek.

✅ Backup digital semua dokumen sudah disimpan di cloud/email.

✅ Keluarga tahu nama kapal, perusahaan, pelabuhan keberangkatan, dan kontak darurat.

Banyak Deck Cadet berpikir bahwa setelah masa Prala selesai, tantangan terbesarnya sudah lewat. Padahal setelah kembali dari kapal, kamu akan masuk fase baru: menyusun CV, mengurus dokumen, menunggu peluang, dan mulai menghadapi interview untuk posisi pertama sebagai junior officer atau 3rd Officer.

Di tahap ini, pengalaman Prala saja belum cukup. Kamu harus bisa menjelaskan pengalaman itu dengan jelas. Recruiter atau user tidak hanya ingin tahu kamu pernah naik kapal. Mereka ingin tahu apa yang benar-benar kamu pelajari di anjungan dan di dek.

  1. Peralatan navigasi apa yang pernah kamu operasikan atau amati langsung.
  2. Apakah kamu paham dasar bridge watchkeeping dan COLREG.
  3. Apakah kamu bisa menjelaskan operasi mooring, anchoring, atau cargo dengan bahasa sederhana.
  4. Apakah kamu punya attitude yang aman dan bisa diarahkan.
  5. Apakah kamu siap menjadi perwira dek, bukan sekadar mantan cadet.

Di sinilah banyak cadet dan junior officer mulai kesulitan. Bukan karena tidak punya pengalaman, tetapi karena belum terbiasa mengubah pengalaman di kapal menjadi jawaban interview yang rapi, jelas, dan meyakinkan.

Karena alasan itu, Daily Loker Pelaut menyusun Interview Mastery for Seafarers sebagai panduan untuk membantu pelaut menyiapkan jawaban interview yang lebih terstruktur, mulai dari level junior.

Prala jangan dijalani sekadar formalitas

Hari ini kamu mungkin hanya ikut lookout, bantu mooring, atau mencatat posisi kapal. Tapi beberapa bulan atau tahun lagi, pengalaman kecil itu bisa berubah menjadi jawaban interview yang kuat – kalau kamu benar-benar paham apa yang kamu kerjakan. Selama Prala, jangan cuma kejar tanda tangan TRB. Catat pengalamanmu, pahami alasannya, dan tanyakan logika di balik setiap pekerjaan.

Baca, simpan, dan share ke teman pelaut lain yang membutuhkan.

Ingin Lebih Siap Saat Interview?

Banyak pelaut punya pengalaman bagus, tapi belum terbiasa menjawab interview dengan rapi. Buku Interview Mastery untuk Pelaut bisa jadi teman latihan sebelum kamu dipanggil interview.

Lihat Buku